Kenapa Orang Indonesia lebih pilih liburan ke Jepang dengan Gaya Backpackeran?

Kenapa Mayoritas Orang Indonesia rela capek-capek jalan kaki dan naik kereta ketimbang traveling naik bus wisata di Jepang

Harga yang, ehem..
Overprice

Sebagian anda mungkin sudah tahu alasan utamanya, ya, harga.

Harga tour Jepang jika dibandingkan dengan negara asia lainnya, merupakan salah satu yang termahal.

Harga tour Jepang All in selama 7 hari ke 3 kota, hampir sama dengan keliling Eropa timur selama 10 hari. Wow!
Hal ini menyebabkan banyak orang Indonesia ‘mundur’.

Tamu kami sendiri banyak yang sudah keliling dunia dengan gaya tour, namun ketika ke Jepang, lebih memilih gaya backpacker dengan alasan penghematan biaya.

Business Model Wisata Jepang

Kebanyakan asosiasi pariwisata dan dinas pariwisata biasanya men-subsidi biaya perjalanan dengan syarat kita harus mengunjungi beberapa merchant tertentu yang diwajibkan.

Namun tidak dengan Jepang, tidak ada merchant yang wajib dikunjungi, namun juga tidak ada subsidi. Subsidi malah diberlakukan untuk biaya transportasi umum, seperti tiket kereta JR PASS yang diperuntukan untuk turis.

Penyebabnya antara lain, kebijakan politik dumping dan filosofi ‘takumi’ yang diyakini sebagian besar masyarakat Jepang.

Hal ini semakin mengukuhkan keyakinan, bahwa business model pariwisata Jepang memang ‘memaksa’ turis untuk menggunakan transportasi umum.

Lokasi tempat parkir

Lokasi tempat parkir yang sudah diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu lalu lintas, ternyata menjadi hambatan bagi kita, orang Indonesia yang berwisata kesana.

Nah loh? Kenapa?

Lokasi wisata ke tempat parkir berjarak cukup lumayan. Terkadang jaraknya sama saja dengan lokasi stasiun dan destinasi wisata.

Sebenarnya nggak ada yang salah, hanya saja sebagai orang dari ‘negara dengan rakyat paling ogah jalan kaki di dunia’ kadang hal ini menimbulkan komplain.

Peraturan Jam kerja Sopir Bis

Di Jepang juga terdapat aturan super ketat yang menyebabkan sopir bis wisata anda tidak boleh bekerja melebihi 12 Jam.

Terkadang hal ini menyebabkan masalah, banyak Itinerary yang dibatalkan karena waktu yang terbatas.

Apalagi banyak peserta dari Indonesia yang membawa ‘budaya ngaret’nya ketika berwisata ke negeri Sakura.

Backpackeran tanpa trip planner?

Bisa aja sih backpackeran ke Jepang sendiri tanpa dibantu travel. Tapi, ada beberapa pertimbangan yang harus kamu pikirkan,

Pertama, Jepang bukan negara berbahasa Inggris. Cukup sulit menemukan orang Jepang yang lancar ngomong english, bahkan beberapa tenaga kerja pariwisata masih kesulitan. Jadi kalau nyasar di jalan, kemungkinan miskom cukup tinggi.

Pertama, Jepang bukan negara berbahasa Inggris. Cukup sulit menemukan orang Jepang yang lancar ngomong english, bahkan beberapa tenaga kerja pariwisata masih kesulitan. Jadi kalau nyasar di jalan, kemungkinan miskom cukup tinggi.